Mengenal Sosok Samin Surosentiko
Samin lahir pada tahun 1859 dengan sebutan Nama Raden Kohar di Desa Ploso Kedhiren , Randublatung, Kabupaten Blora. Ayahnya bernama Raden Surowijaya atau Samin Sepuh Dia mengubah namanya menjadi Samin Surosentiko ,karena Nama Samin memiliki arti sebuah Nama yang bernapas wong cilik .( Samin Surosentiko).Masih memiliki hubungan darah dengan Kyai Keti di Rajegwesi, Bojonegoro, dan Pangeran Kusumoningayu yang berkuasa di Kabupaten Sumoroto (kini menjadi daerah kecil di Kabupaten Tulungagung) pada 1802-1826. Pada 1890 Samin Surosentiko mulai mengembangkan ajarannya di daerah Klopoduwur, Blora. Banyak yang tertarik dan dalam waktu singkat sudah banyak orang menjadi pengikutnya. Saat itu pemerintah kolonial Belanda menganggap sepi ajaran tersebut, hanya dianggap sebagai ajaran kebatinan atau agama baru yang remeh temeh belaka.
Samin di Anggap Ateis (Ateisme)
Ateisme adalah sebuah pandangan filosofi yang tidak memercayai keberadaan Tuhan dan dewa-dewi ataupun penolakan terhadap teisme. Dalam pengertian yang paling luas, adalah ketiadaan kepercayaan pada keberadaan Dewa atau Tuhan.
Istilah Ateisme berasal dari Bahasa Yunani (átheos), yang secara peyoratif digunakan untuk merujuk pada siapapun yang kepercayaannya bertentangan dengan agama/kepercayaan yang sudah mapan di lingkungannya. Dengan menyebarnya pemikiran bebas, skeptisisme ilmiah, dan kritik terhadap agama, istilah ateis mulai dispesifikasi untuk merujuk kepada mereka yang tidak percaya kepada Tuhan.
Sudah Terlalu banyak Tuduhan yang di lontarkan oleh pakar Barat, terutama para ahli ketimuran (orientalis)terhadap Samin Surosentiko pada Tahun 1859 - 1914. Yang paling parah adalah tuduhan bahwa Samin itu Ateis dan ajarannya menolak gagasan tentang Tuhan, tak pedui Allah, kita seakan-akan diajak hanyut dan mengikut bahwa pada akhirnya stempel ini benar dan bukannya menyesatkan. Sayang nya beliau Ki Samin telah meninggal duia, dan tentunya tak bisa lagi diwawancarai untuk dimintai penjelasan apa yang sebenarnya dikehendaki. Naskah pedoman ajaran yang ditulisnya juga entah masih ada entah tidak. Kita hanya bisa berharap mendapatkan secercah kebenaran dari "catatan" orang lain, yang rata-rata memang bisa dibilang pakar.
Baca juga :
Sejarah Unik.|Menarik.| dan | Penting !!!
C.L.M. Penders, M.A., Ph.D. dari Departemen Sejarah Universitas Queensland Australia, misalnya, menulis; "Around 1890, Surontiko Samin, an illiterate farmer from Desa Randublatung in the Blora region, began to spread his basically religious teachings The religion of Adam. Rejecting the idea of God either Allah or any other kind the religion of Adam was a kind of agricultural fertility cult, placing great emphasis on the basic relationships of man with the earth. Closely connected with this was Samin's view of marriage, sex and the position of women."
Yang artinya kira kira seperti ini :
Pada sekitar tahun 1890, Samin Surosentiko, petani buta huruf dari Desa Randublatung daerah Blora, mulai menyebarkan ajarannya yang pada dasarnya Agama Adam. Menolak gagasan tentang Tuhan baik Allah maupun sembahan apapun yang lain, Agama Adam itu semacam pemujaan kesuburan pertanian, yang menempatkan penekanan besar pada hubungan dasar manusia dengan bumi. Terkait erat dengan ini adalah pandangan Samin tentang, pernikahan, seks, dan kedudukan Perempuan."
Tuduhannya itu didasarkan dari pendapat Victor T. King, Terjemahan bebasnya kurang lebih: sungguh penekanan Samin pada kesuburan, tamsil seksual, dan kekuatan magis yang ada dalam seks mengingatkan pada penyembahan tradisional atas kesuburan pertanian. Seperti kepercayaan petani di bagian lain dunia, pemujaan oleh orang Jawa ini percaya pada pertalian suami-isteri antara surga dan bumi. Dari hubungan ini, timbul segala sesuatu yang hidup. Kepercayaan ini juga menekankan kedudukan penting petani yang ikut dalam "perkawinan" itu dengan cara bercocok tanam.
Dari sekian banyak pendapat tentang keberadaan Samin Surosentiko, akhirnya tersimpulkan bahwa pokok ajaran Saminisme sebenarnya sangat sederhana. Namun, yang perlu pertanna-tama diingat adalah pandangan Samin yang berada dalam mainstream Jawa. Artinya, ada latar belakang kejawaan tertentu yang melandasi pemikiran orang Samin . Samin Surosentiko mencoba membentuk gerakan perlawanan yang tidak menggunakan sarana kekerasan fisik. lnilah model perlawanan terhadap Belanda secara "halus", non fisik yakni kultural.
Terimakasih Sudah membaca artikel ini , Kamu juga dapat membaca artikel yang lainnya di menu Pilihan Baca.